Wednesday, December 14, 2011

Good bye Jakarta

Tak terasa, hampir 8 tahun, 1/3 masa hidup gw tinggal dikota ini. Dulu datang ke Jakarta dengan segudang mimpi. Tapi pada kenyataannya, jakarta begitu keras untuk di taklukkan.

Berbagai kisah sudah dilalui di kota ini. Senang, sedih, stress, bingung, galau, campur aduk. Semua pernah dialami dikota ini.

Jadi inget lagi waktu masa kuliah masa culun teramat sangat dengan idealisme yang menggebu gebu dan kostan yang tidak layak huni, kemudian saat diterima sebagai Marketing di Binus sambil kuliah (untuk pertama kalinya kerja full time, dan untuk pertama kali nya menerima SP II, walaupun di block jalan mau jadi aslab walapun udah lulus ujian nya tapi benar2 kerasa manfaat nya), trs skripsi yang dikerjain cuman 1 minggu disaat tahun baru. Trs keterima kerja di Singapore walaupun akhir nya gagal kerja gara2 ijazah yang belum keluar. Trs kerja IT pertama kali dengan bos yang suka sesama jenis, sukur nya disana kurang dari seminggu. Selanjutnya bekerja di Real Networks selama 1 1/2 tahun, di tempat ini gw kerja yang paling lama. Dan hari ini sempet juga pamitan disana. Trs pindah ke FF dari rekomendasi sodara reza. Saat ini lah gw mulai terjerumus dengan dunia gelap yang ada di Jakarta. Bekerja di MIK yang cuman bertahan selama tidak lebih dari 5 bulan. kemudian bekerja serabutan tapi happy dan memulai membenarkan hidup, kembali ke jalan yang benar dan menatap masa depan.

Dan sekarang, sudah saatnya gw pulang ke kampung halaman. Mengubur cita - cita yang pernah dimimpikan di Jakarta, dan memulai merubah mimpi itu menjadi kenyataan di Bali.

Om Awignam Astu Namas Sidam.


Tuesday, December 6, 2011

Idea vs Execution. Fight!

Belakangan ini sangat tinggi hype tentang startup lokal. Beberapa kali juga saya sempat terlibat menjadi bagian dari salah satu nya, tapi hanya sebagai pekerja. Walaupun sempat juga menjadi calon pemilik. Baru calon. Haha.

Ada hal yang saya sangat cermati terhadap startup tersebut. Beberapa dari startup tersebut memiliki ide yang sangat brilian. Bahkan saya pun berdecak kagum akan prospek dari startup tersebut. Tapi setelah saya bergabung kesana, saya melihat sedikit keganjilan didalam nya. Seperti ada lubang yang mereka tinggalkan begitu saja. Tanpa ada yang berusaha menutupi nya.

Beberapa kali saya berfikir, kenapa perusahaan ini tidak dapat berkembang. Setiap saya melihat kebelakang, apakah ada yang salah dengan ide nya, saya selalu melihat sebuah prospek besar didepan. Tapi kenapa perusahaan ini tidak dapat berkembang seperti yang diinginkan?

Perlahan saya pun mengerti, esensi dari suatu usaha tidak hanya dalam Ide. Eksekusi dengan cara yang tepat jauh lebih dibutuhkan dari pada sebuah ide yang Brilian untuk mencapai hasil yang maksimal.

Sebagai contoh nyata, Bhinneka.com adalah sebuah website yang sangat sangat terkenal di indonesia. Bahkan website nya masuk kedalam 100 besar website yang paling sering dikunjungi di Indonesia. Tapi pada kenyataannya, mereka hanya membukukan revenue 10% dari online transaction, dan sisa nya dari Offline transaction. Jumlah item yang dibeli dari online transaction pun hanya 10 - 20 item perhari. FYI bhinneka rata - rata mencapai 50 ribu hit perhari nya. Konversi hit dan pembeliannya sangat - sangat rendah.


Terlepas dari prilaku masyarakat indonesia dalam pembelian online retail, bhinneka tetap dapat survive sampe sekarang dan tetap menjadi leader retailing dalam bidang elektronika khusus nya perangkat komputer di Indonesia.

Dari contoh bhinneka tersebut kita dapat melihat bagaimana sebuah ide yang biasa biasa saja bisa menjadi suatu bisnis yang berevenue puluhan milyar setiap tahunnya. Padahal sampai sekarang potensi penjualan online di indonesia masih cukup jauh dengan offline store. Tanpa eksekusi yang baik, saya sangat yakin nasib dari bhinneka tidak jauh seperti start up lainnya yang cuman Numpang Lewat.